It's my life
Sabtu, 17 Desember 2011
BANYAK HAL YANG TAK KITA INGINKAN TERJADI
Aku menikahi istriku Eris Jumiati pada tanggal 10 Juli 2004. Awal menikah aku hanya bekerja di Sekolah Dasar 06 Baru Pasar Rebo Jakarta Timur. Aku hanya mengajar pada hari Jum’at dan Sabtu, selebihnya aku mengajar diLembaga kursus Mentari yang dimiliki oleh Ibu Wati di Cijantung. Di SDN 06 aku hanya dibayar Rp 300.000 perbulan, karena aku hanya mengajar dari kelas 2 – kelas 6. Awal aku mengajar di SDN 06 amat menyenangkan walaupun gaji kecil tetapi selalu tepat waktu. Guru guru diSDN ini adalah para guru yang dulu pernah mengajarku. Tak lama kemudian para guru ini mengalami mutasi. Dari sinilah berawal ketidaknyamananku mengajar di SDN 06, wajah-wajah baru dari SDN lain berdatangan, sebagian dari mereka adalah orang yang tidak begitu ramah, mereka memandang aku yang hanya honorer dengan pandangan rendah, aku tahu itu. Gajiku pun mulai tidak beres pembayarannya, sering telat. Dari awal bulan menjadi tengah bulan lalu menjadi akhir bulan bahkan sampai awal bulan selanjutnya.
Puncaknya sampai tiga bulan gajiku tak dibayar, setiap aku tanyakan, jawabannya adalah BOS nya belum cair. Semenjak Ibu Rini memegang bendahara sekolah, gaji selalu telat. Aku benar-benar menderita, kalau masih bujangan mungkin tak begitu masalah bagiku tapi kini aku harus menghidupi istriku. Aku iba melihatnya setiap aku pulang dari SD ia selalu bertanya suadah keluar belum duitnya?. Aku hanya menggeleng. Sampai suatu ketika aku memberanikan diri lagi untuk meminta hakku, bu, “apakah honor saya sudah bisa saya ambil.”
Agak keras ibu guru itu menjawab belum ada!”
Kemudian ia pun berkata,”dua bulan saja dulu mau ga?”
“Ya udah deh, boleh,” Jawabku.
Gajiku hanya dibayar Rp 600.000, jadi yang sebulan Rp 300.000 nya bulan depan. Bulan berlalu, aku pun meminta hakku yang bulan lalu plus bulan yang baru berarti aku akan menerima Rp 600.000 tapi ternyata aku hanya diberi Rp 300.000, aku pun heran.
“Bu, kok cuma Rp 300.000, bukan seharusnya Rp 600.000, gaji bulan lalu kan belum dibayar, waktu itu saya belum dibayar 3 bulan tapi ibu hanya member Rp 600.000 yang seharusnya Rp 900.000. Sisanya Rp 300.000, seharusnya saya terima bulan ini plus Rp 300.000 bualan yang baru, maka seharusnya saya saat ini menerima Rp 600.000 tapi kok ibu hanya membayar Rp 300.000 saja.” Kataku heran
“Yang 3 bulan itu sudah dibayar semua kok,” jawab bu Rini ketus dengan nada keras.
“Oooo, jawab ku kesal,” Aku pun pergi, dalam hatiku mengutuk keras perbuatan curangnya, aku berdo’a pada Allah, semoga Allah membalas perbuatannya. Aku pun berfikir, pasti aku akan menerima bayaran dari kekurangan gajiku itu diakhirat kelak yang akan dibayarkan dengan amal bu Rini.
Sesampai dirumah aku harus mengahadapi istriku yang sudah berharap menerima uang Rp 600.000, ia sangat heran, “Kok Cuma Rp 300.000?
“Tau tuh bu Rini, “Jawabku lirih.
“Emangnya ga bilang bahwa kurang Rp 300.000, yang bulan lalu kan belum dibayar. Dari 3 bulan kan Cuma dibayar Rp 2 bulan. Jadi harusnya terima Rp 600.000, dari bulan lalu plus bulan ini,” ujar istriku.
“Bu, Rini bilang yang bulan lalu sudah! Jadi hanya tinggal bulan ini, ya udahlah biar aja, ntar juga kita dapatkan diakhirat kelak. Biar aja dia bayar diakhirat dengan amalnya!,” kataku menghibur.
Mengajar di SDN 06 banyak sekali hal yang tidak menyenangkan ku alami, seperti aku harus tanda tangan kwitansi yang uangnya tak pernah aku terima. Dengar-dengar sih buat pengawas yang minta jatah persenan dari uang BOS, wallahualam.
Itu sih tidak terlalu kupersoalkan, yang amat sangat membuatku kesal adalah tentang buku paket. Saat akhir tahun sekolah kedatangan sales buku, yang kebetulan aku sedang ada, jadi aku pun memilih buku yang cocok untuk tahun ajaran baru akan datang. Setelah aku memilih akhirnya aku menemukan buku paket yang cocok, aku meminta satu untukku, juga aku meminta sales untuk mengedrop buku sebelum masuk sekolah, jadi saat hari pertama sekolah aku sudah bisa memakainya. Tapi apa yang terjadi saat tahun ajaran baru tiba aku meminta muridku untuk mengeluarkan buku paketnya ternyata berbeda dengan buku paket yang ada ditanganku, aku pun heran dan langsung pergi keruang guru, aku mencari guru lain. Aku menanyakan mengapa buku yang ku pesan berbeda dengan yang dibeli anak-anak? Salah seorang guru menjawab, (aku lupa siapa) bahwa buku itu adalah didrop dari pengawas langsung, sales yang licik pikirku, sebab sales ini pernah dating padaku tapi aku tolak karena isi bukunya sangat tidak bagus. Jadi dia ambil jalan pintas langsung kepengawas, sebab bila menawarkan ke guru, pastilah guru tak akan mau mengambilnya.
“Astagfirullah”, aku sangat kesal dibuatnya. buku ini sangat tipis dan setelah aku selidik ternyata buku itu harganya paling mahal diantara buku yang lain. Paling tipis dan paling mahal. Ampun, kacau semua. Aku mulai tak bersemangat, akhirnya aku mengatakan pada semua siswa bahwa saya tak pernah menginginkan buku itu, jadi saya tak akan memakainya, bagi yang belum beli jangan beli! Dan yang sudah beli disimpan saja, akrena saya tak akan memakainya. Saya akan mengajar tanpa buku saja. Aku tak perduli apapun yang akan terjadi, toh aku tak pernah menerima uang buku. Aku malu sebab buku paket itu pemecah rekor harga dibanding buku pelajaran lain. Para orang tua pasti ngomong aku menerima uang paling besar, padahal aku tak pernah menerima uang buku sepeserpun, akupun tidak tahu kemana perginya uang itu. Yang jelas ada kecurangan, ada sales yang bermain curang, ia langsung menawarkan buku kepengawas dan pasti menjanjikan sejumlah uang lalu ia memaksakan kesetiap sekolah maka kepala sekolah yang takut dengan pengawas akan menuruti.
Karena tindakanku yang melarang pembelian dan mengatakan tak akan memakai buku itu akhirnya orang tua berdatangan kesekolah pada hari senin yang kebetulan aku tak ada disekolah untuk mengembalikan buku paket bahasa Inggris yang sudah dibeli,. Saat aku masuk pada hari Jum’at Ibu kepala sekolah memanggilku, ia menanyakan kenapa tak mau memakai buku itu. Aku hanya menjawab enteng, bahwa itu tidak sesuai dengan pesanan saya bu. Aku tak peduli ia mau marah atau tidak sebab aku tak pernah menerima uang hasil penjualan buku.
Hari-hariku mengajar di SDN 06 semakin tak menyenangkan hatiku, para guru semakin sombong dan bersikap congkak, mereka merasa bahwa pegawai negeri derajatnya lebih tinggi dari honorer. Hingga akhirnya suatu ketika di tahun 2007, Ibu Jeany kepala Sekolah menawarkan aku untuk menambah hari, satu hari lagi agar saya bisa mengajar dari kelas 1. Wah, sangat memusingkan bila harus menambah hari sebab saat ini aku sudah mengajar di SMA Islam Panglima Soedirman Bekasi 1. Setelah berdiskusi dengan istriku tercinta, akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari SDN 06 yang telah aku ajar dari tahun 2000. Aku berfikir sebaiknya aku mundur setelah sekian tahun tak ada perubahan. Dilaporkan kedinas saja tidak bahwa aku tenaga honorer disitu. Lebih baik aku ambil keputusan unutk mengundurkan diri dari SDN 06 dan konsentrasi penuh di SMA Islam Panglima Besar Soedirman 1 Bekasi. Setelah aku pergi ternyata ibu kepala sekolah memasukkan anak perempuannya menggantikan aku mengajar diSDN 06 Baru. Ternyata ada udang dibalik batu.
Kamis, 15 Desember 2011
Indonesia negeri yang aneh
Kita hidup dinegeri yang aneh, hukum seakan tak berarti untuk orang yang berduit. Selalu bisa menghindar dari setiap dakwaan, tapi orang miskin, pasti selalu salah walaupun sesungguhnya benar. Tak adanya kepastian hukum, seakan hukum bisa diatur dengan uang. Kita bisa melihat dengan pikiran awam bahwa banyak sekali ketidakadilan terjadi, saat Gayus buron seakan bahwa kasus besar akan terkuak dengan tertangkapnya ia, tapi apa yang terjadi, setelah menguras tenaga, waktu juga uang untuk memburunya, penangkapannya seakan sia-sia. Dunia seperti berhenti, tak ada arti yang membawa angin sejuk untuk rakyat. Uuuh, pantas saja Allah murka melihat negeri ini, bencana silih-berganti berdatangan menghujam kita.
Langganan:
Komentar (Atom)